Pemenang Adalah...

Pemenang sejati adalah berani gagal, berarti berani belajar. Berani untuk mendapatkan kemenangan, juga berani hadapi kegagalan sebagai pembelajaran. Hanya mereka yang berani gagal yang dapat meraih keberhasilan.

Seputar Cinta

Jika rasa cinta terbalas, maka bersyukurlah karena Tuhan telah memberikan hidup lebih berharga dengan belas Kasih-Nya. Jika sebaliknya, maka bersabarlah karena Tuhan sudah mempersiapkan yg lebih baik

Banyak Sahabat

Sahabat itu akan menyenangkanmu saat kamu galau, menghiburmu saat kamu sedih dan membelamu saat kamu terluka.

Seputar Persahabatan

Jangan mengabaikan dia yg peduli padamu, suatu hari kamu akan kehilangan dia hanya karena kamu terlalu sibuk dgn dia yg tak peduli.

Cinta Tak Butuh Alasan

Dan cinta itu memang tidak butuh alasan. Seperti semua orang tua yang mencintai anak-anaknya tanpa alasan.

04/05/12

Distance Healing (Penyembuhan Jarak Jauh) – Perlu Ijin atau Tidak?

Masih sering diperdebatkan mengenai perlunya ijin untuk melakukan penyembuhan jarak jauh baik kepada orang, kelompok orang yang berada di lain tempat.

Sebenarnya hal ini sepenuhnya tergantung pada apa tujuan praktisi reiki ketika akan melakukan penyembuhan jarak jauh. Ketika seorang praktisi reiki benar-benar terhubung ke energi universal atau spiritual maka sebenarnya tidak ada "jarak". Inti dari energi universal adalah non-dual yang berarti bahwa segala sesuatu saling berhubungan, tanpa ada pemisahan. Hanya pemahaman kita yang terbatas yang menuntun kita untuk melihat hal-hal sebagai terpisah. Jadi jelaslah sudah bahwa seorang praktisi reiki tidak harus meminta ijin dalam melakukan penyembuhan jarak jauh, seorang praktisi reiki tinggal menghubungkan dirinya dengan energi universal dan memancarkannya kembali. Pada saat terhubung dengan energi universal ini seorang praktisi reiki bagaikan “matahari” memancarkan cahaya ke segala penjuru arah.

Matahari tidak meminta izin untuk bersinar, namun orang mengambil sesuatu dari matahari. Beberapa ingin berbaring di bawah sinar matahari sepanjang hari, beberapa ingin duduk di bawah sinar matahari selama istirahat makan siang mereka, sementara yang lain tinggal di dalam rumah menikmati cahaya alami. Setiap orang mengambil apa yang dia butuhkan dari matahari, bukan apa matahari yang berpikir apa yang seharusnya diberikan kepada mereka.

Atau seorang praktisi reiki bisa menganggap bahwa dirinya bagaikan api unggun. Sebuah api unggun hanya membakar dan panas memancar. Orang-orang di sekitar mengambil dari panas sesuai yang dibutuhkan. Beberapa ingin duduk dekat api, sementara yang lain duduk agak jauh, dan yang lain tidak ingin berada di dekat api sama sekali. Orang-orang mengambil dari api apapun yang mereka butuhkan, Api tidak berpikir memberikan sesuatu pada orang yang ada disekitarnya. 

Layaknya matahari dan api, maka seorang praktisi reiki tidak menghakimi maupun menentukan, seorang praktisi hanya memancarkan energi universal. Dalam kondisi seperti ini seorang praktisi reiki tinggal mengatur niatnya/ tujuan/ afirmasi nya saja ketika melakukan penyembuhan jarak jauh supaya orang, tumbuhan maupun binatang menerima energi sesuai yang mereka butuhkan. HANYA ITU.

11/04/12

Paradigma Sosiologi

Secara sederhana paradigma dapat kita artikan sebagai kacamata atau sudut pandang dalam melihat obyek sesuatu yang diamati, istilah “paradigma” (paradigm) pertama kali diperkenalakan oleh Thomas Kuhn dalam karyanya yang berjudul The Structure Of Scientific Revolution (Chicago: University Of Chicago Press, 1970). Menurutnya paradigma adalah satu kerangka referensi atau pandangan dunia yang menjadi dasar keyakinan atau pijakan suatu teori. Dalam bukunya Kuhn mnejelaskan tentang perubahan paradigma dalam ilmu dan menurutnya disiplin ilmu lahir sebagai proses revolusi paradigma, bisa jadi suatu teori ditumbangkan oleh pandangan teori baru yang mengikutinya.
Dalam bidang sosioligi, pandangan ini dikembangkan secara sistematis oleh George Ritzer dalam bukunya Sociology A Multiple Paradigm Science (Boston Allyn and Bacon, Inc, 1980). Hanya saja karena satu dan lain hal , dalam penjelasan disini penulis tidak akan memakai buku aslinya versi Bahasa Inggrisnya, tapi cukup menggunakan buku saduran Alimandan dalam versi terjemahan yang berjudul Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda. Dalam buku ini George Ritzer memetakan tiga paradigma besar dalam disiplin sosiologi, meskipun dalam perkembangan teori mutakhir, pembagian tiga paradigma ini secara tegas menjadi usang dan kurang relevan. Ketiga paradigma yang dominan dalam sosiologi menurut Ritzer adalah  Paradigma Fakta Sosial, Definisi Sosial, dan Perilaku Sosial yang dibedakan berdasarkan empat komponen dari paradigma yaitu ekemplar, gambaran subject matter, metode dan teori-teorinya.
Paradigma yang pertama adalah Fakta Soial, paradigma ini dikembangkan oleh Emile Durkheim, seorang sosiolog asal Perancis. Durkehim mempertegas bahwa pendekatan sosiologisnya berseberangan dengan Herbert Spencer yang menekankan pada individualisme. Spencer lebih tertarik pada perkembangan evolusi jangka panjang dari masyarakat-masyarakat modern dan baginya kunci untuk memahami gejala sosial dan alamiah lainnya adalah hukum evolusi yang universal. Ada kemiripan antara Comte da Spencer dalam ilmu-ilmu sosial. Keduanya sama-sama ingin menerapkan teori evolusionisme pada alam dan biologi ke dalam wilayah-wilayah kajian ilmu-ilmu sosial. Spencer lebih memperhatikan terhadap perubahan struktur sosial dalam masyarakat dan tidak pada perkembangan intelektual.
Menurut paradigma ini, ”Fakta Sosial’ menjadi pusat penyelidikan dalam sosiologi. Durkheim menyatakan bahwa fakta sosial itu dianggap sebagai baranag sesuatu (thing) yang berbeda dengan ide. Ia berangkat dari realitas (segala sesuatu) yang menjadi objek penelitian dan penyelidikan dalam dalam studi sosiologi. Titik berangkat dari sifat analisisnya tidak menggunakan pemikiran spekulatif (yang menjadi khas filsafat), tapi untuk memahami realitas maka diperlukan penyusunan data riil di luar pemikiran manusia. Dan penelitian yang dihasilkanpun bersifat deskriptif dan hanya berupa pemaparan atas data dan realitas yang terjadi. Fakta sosial terdiri atas dua tipe, yaitu struktur sosial (social Structure) dan pranata sosial (lembaga institusi).
Paradigma yang kedua adalah Definisi Sosial, yang dikembangkan oleh Max Weber untuk menganalisa tindakan sosial (social action), eksemplar yang digunakan dalam paradigma ini adalah dari Max Weber (1864-1920). Weber memandang bahwa kenyataan sosial secara mendasar terdiri dari individu-individu dan tindakan-tindakan sosialnya yang berarti. Bagi Weber, Sosiologi adalah ”a science which attempts the interppretative understanding of social action in order therby to arrive at a causal explanation of its course and effects”.
Tekanan dalam definisi Weber ini berbeda dari pendirian Weber bahwa sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari fakta sosial yang bersifat eksternal, memaksa individu, dan bahwa fakta sosial harus dijelaskan dengan fakta sosial lainnya. Durkheim melihat kenyataan sosial sebagai suatu yang mengatasi individu, berada pada tingkat yang bebas; Weber melihat kenyataan sosial sebagai sesuatu yang didasarkan pada motivasi individu dan tindakan-tindakan sosial. Bila Durkheim memiliki posisi yang umumnya berhubungan dengan realisme sosial maka posisi Weber berhubungan dengan posisi nominalis. Kaum nominalis berpendirian bahwa hanya individu-individulah yang riil secara objektif, dan bahwa masyarakat hanyalah suatu nama yang menunjuk pada sekumpulan individu-individu. Perbedaan penting lainnya antara Durkheim dan Weber adalah pandangannya mengenai proses-proses subjektif yang sangat penting dalam definisi Weber.
Posisi Weber ini menjadi jelas dalam pernyataannya bahwa ”interpretative sociology considers the individual (Einzelindividuum) and his action as the basic unit, as its atom’...in this approach, the individual is also the upper limit and the sole carrier of meaningful conduct... in general,for sociology, such concept as `state`, association, feudalism, and the like, designate certain categories of human interaction. Hence it is the task of sociology to reduce these concept to understandable action, that is, without exception, to the action of participating individual men. Dari sini terlihat bahwa tujuan sosiologi interpretative Weber adalah untuk masuk ke arti-arti subjektif yang berhubungan dengan berbagai “kategori interaksi manusia”.
Dalam kerangka Weberian inilah paradigma definisi sosial menempatkan definisi aktor terhadap situasi social dan efeknya terhadap tindakan dan interaksi sebagai subject matter sosiologi. Ada banyak teori yang dicakup dalam paradigma definisi sosial. Dalam sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda yang disadur oleh Ali Mandan, Ritzer memberikan tiga teori yaitu ; Teori Aksi (action Theory), Interaksionisme Simbolik (symbolic interactionism) dan fenomenologi (phenomenology). Namun karena perkembangan yang pesat dalam teori sosiologi mutakhir Ritzer menambahkan lagi dua teori kedalam paradigma ini yaitu Etnometodologi (ethnomethodology) dan Eksistensialisme (exixtensialism).
Meskipun penganut paradigma definisi sosial yang paling sering menggunakan metode kuisioner-interview namun mereka juga lebih sering menggunakan metode observasi bila dibandingkan dengan penganut paradigma yang lain. Dengan kata lain, observasi merupakan metode yang membedakan penganut definisi sosial dari penganut paradigma lain. 
Ketiga, paradigma perilaku sosial. Eksemplar yang digunakan dalam paradigma ini adalah karya B.F Skinner yang mencoba menerjemahkan prinsip-prinsip psikologi aliran behavioris ke dalam sosiologi. Skinner memandang kedua paradigma fakta sosial dan definisi sosial sebagai perspektif yang bersifat mistik dalam arti mengandung sesuatu persoalan yang bersifat teka-teki, tidak dapat diterangkan secara rasional. Fakta sosial – terdiri atas struktur sosial dan pranata sosial – yang menjadi subject matter paradigma fakta sosial dan sesuatu yang terjadi dalam pemikiran manusia berupa dalam pemikiran manusia berupa tanggapan kreatif terhadap suatu stimulus dari luar dirinya yang menjadi subject matter paradigma definisi sosial oleh Skinner dinilai sebagai suatu objek yang bersifat mistik.

Peter L Berger dan Luckman: Eksternalisasi, Obyektivasi, Internalisasi

  Sosiologi pengetahuan Berger merupakan hasil kerja intelektual yang banyak mendapatkan sumbangan dari tokoh-tokoh klasik, dari Karl Marx, Max Weber, Durkheim, sampai fenomenologi Alfred Schuezt. Berger berupaya menemukan jalan damai dari perdebatan ilmiah dalam sosiologi dengan bangunan teori sosiologi pengetahuan yang ia kembangkan. Upaya-upaya yang dilakukan Berger dengan membangun sebuah teori konstruksi sosial tentang kenyataan ini sungguh menarik sebagaimana yang dicatat Margaret M. Poloma (1992: 303), bahwa dalam karya-karya Berger jelas terlihat usaha untuk menjembatani yang makro dan mikro, bebas nilai dan sarat nilai, interaksionis dan strukturalis, maupun teoritis dan relevan.
Secara konseptual sosiologi pengetahuan muncul sebagai respon terhadap realitas ilmu-ilmu sosial yang mengadopsi ilmu alam baik dalam teori, metodologi, dan epistemologi. Kerangka pemikiran yang positivistik dalam ilmu sosial telah menghancurkan sisi internal manusia, atau sisi humanistik ke dalam postulat-postulat kaku, sehingga sosiologi pengetahuan memberikan peluang baru bagi ilmu sosial untuk bergerak dalam menangani fenomena sosial dengan memasukkan unsur humanistis sekaligus fakta sosial.
Secara langsung sosiologi pengetahuan memiliki hutang budi terhadap tokoh-tokoh klasik seperti Karl Marx, Max Weber, Emile Durkeim, dan terhadap tradisi pemikiran fenomenologi Huserl sampai Alfred Schuzt. Kenyataannya teori ini berusaha menengahi dari berbagai aliran yang berkembang dalam pemikiran ilmu sosial. Seperti usahanya dalam menghadapi kenyataan sosial, yang tidak hanya bersifat objektif atau subjektif an sich, tetapi lebih sebagai kenyataan sosial ganda yang melibatkan proses dialektis masyarakat.
Penelitian makna melalui sosiologi pengetahuan, mensyaratkan penekunan pada “realitas” dan “pengetahuan”. Dua istilah inilah yang menjadi istilah kunci teori konstruksi sosial Peter L. Berger dan Thomas Luckmann (1990).Kenyataan” adalah suatu kualitas yang terdapat dalam fenomen-fenomen yang memiliki keberadaan (being) yang tidak tergantung kepada kehendak individu manusia (yang kita tidak dapat meniadakannya dengan angan-angan). “Pengetahuan” adalah kepastian bahwa fenomen-fenomen itu nyata (real) dan memiliki karakteristik-karakteristik yang spesifik.2 Kenyataan sosial adalah hasil (eksternalisasi) dari internalisasi dan obyektivasi manusia terhadap pengetahuan –dalam kehidupan sehari-sehari. Atau, secara sederhana, eksternalisasi dipengaruhi oleh stock of knowledge (cadangan pengetahuan) yang dimilikinya. Cadangan sosial pengetahuan adalah akumulasi dari common sense knowledge (pengetahuan akal-sehat).3 Common sense adalah pengetahuan yang dimiliki individu bersama individu-individu lainnya dalam kegiatan rutin yang normal, dan sudah jelas dengan sendirinya, dalam kehidupan sehari-hari (Berger dan Luckmann, 1990: 34).
Pendekatan Berger terhadap pemahaman realitas ini memiliki dimensi – dimensi subyektif dan obyektif. Manusia merupakan instrumen dalam menciptakan realitas sosial yang obyektif melalui proses eksternalisasi, sebagaimana ia mempengaruhinya melalui proses internalisasi (yang mencerminkan realitas subyektif). Proses ini berjalan dalam kerangka dialektika Hegel, yaitu adanya tesa, anti tesa, dan sintesa antara diri (the self) dengan dunia sosio-cultural, Frans Parera  menjelaskan bahwa tugas pokok sosiologi pengetahuan adalah menjelaskan dialektika antara diri (self) dengan dunia sosiokultural melalui tahapan-tahapan tersendiri
Bagi Berger,masyarakat merupakan fenomena dialektis dalam pengertian bahwa masyarakat adalah suatu produk manusia yang akan selalu memberi tindak balik kepada produsennya. Masyarakat tidak memiliki bentuk lain kecuali untuk yang diberikan padanya oleh aktivitas dan kesadaran manusia. Setiap masyarakat manusia adalah suatu usaha pembangunan dunia. Proses dialektik fundamental dari masyarakat terdiri dari tiga momentum atau langkah yaitu eksternalisasi, obyektivasi dan internalisasi.
Eksternalisasi, adalah suatu pencurahan kedirian manusia secara terus menerus ke dalam dunia, baik dalam aktivitas fisik maupun mentalnya. Dalam pembangunan dunia, manusia karena aktifitas-sktifitasnya menspesialisasikan dorongan-dorongannya dan memberikan stabilitas pada dirinya sendiri. Karena secara biologis manusia tidak memiliki dunia-manusia maka dia membangun suatu dunia manusia. Manusia menciptakan berbagai jenis alat untuk mengubah lingkungan fisik dan alam dalam kehendaknya. Manusia juga menciptakan bahasa dimana melalui bahasa manusia membangun suatu dunia simbol yang meresapi semua aspek kehidupannya. Sama seperti kehidupan materialnya, masyarakat juga sepenuhnya produk manusia. Pemahaman atas masysrakat sebagai suatu produk aktifitas manusia sebagaimana berakar pada eksternalisasi menjadi penting mengingat kenyataan bahwa masyarakat  tampak dalam pengertian sehari-hari sebagai sesuatu yang berbeda dari aktifitas manusia. Transformasi produk-produk manusia kedalam suatu dunia tidak saja berasal dari manusia tetapi juga kemudian mengahadapi manusia sebagai suatu faktisitas diluar dirinya sebagaimana diletakkan dalam konsep objektivasi.
Objektivasi adalah disandangnya produk-produk aktifitas itu (baik fisik maupun mental), suatu realitas yang berhadapan dengan para produsennya semula, dalam bentuk suatu kefaktaan (faktisitas) yang eksternal terhadap dan lain dari produsen itu sendiri. Dunia yang diproduksi oleh manusia kemudian menjadi sesuatu ”yang berada di luar sana”. Dunia ini terdiri dari benda-benda, baik materiil maupun non materiil yang mampu menentang kehendak produsennya. Sekali sudah tercipta maka dunia ini tidak bisa diabaikan begitu saja.
Objekt ivitas pemaksa dari masyarakat tersebut terlihat jelas dalam prosedur-prosedur kontrol sosial, yaitu prosedur-prosedur yang khusus dimaksudkan untuk memasyarakatkan kembali individu-individu atau kelompok pembangkang. Lembaga-lembaga politik dan hukum dapat memberi contoh jelas mengenai hal ini. Objektivitas masyarakat mencakup semua unsur pembentuknya. Lembaga-lembaga, peran-peran dan identitas –identitas eksis sebagai fenomena-fenomena nyata secara objektif dalam dunia sosial meskipun semua itu tidak lain adalah produk-produk manusia.
Internalisasi adalah peresapan kembali ralitas tersebut oleh manusia, dan mentransformasikannya sekali lagi dari struktur-struktur dunia objektif ke dalam struktur-struktur kesadaran subjektif. Melalui objektivasi maka masyarakat menjadi suatu realitas sui generis, unik. Melalui internalisas, maka manusia merupakan produk masyarakat. 
Parera menambahkan, tiga momen dialektika itu memunculkan proses konstruksi sosial yang dilihat dari segi asalnya mulanya merupakan hasil ciptaan manusia, yaitu buatan interaksi intersubyektif.
Melalui proses dialektika ini, realitas sosial (tindakan sweeping) dapat dilihat dari ketiga tahap tersebut. Sebagai dimulai dari proses eksternalisasi, dimulai dari tahap interaksi antara makna sweeping dengan aktor terjadi pengenalan dan pemahaman. Eksternalisasi menurut Berger merupakan bagian penting dalam kehidupan individu dan menjadi bagian dari dunia sosiokulturnya. Dengan kata lain eksternalisasi terjadi pada tahap yang mendasar, dalam satu pola perilaku antar interaksi antar individu-individu dengan produk sosial masyarakatnya. Kemudian disusul dengan proses obyektivasi dan dissusul dengnan internalisasi penggambaran individu untuk mengikuti tindakan sweeping sebagai sebuah kebenaran yang harus dilakukan.



09/04/12

Sharing Reiki Treatment

Tulisan ini saya dedikasikan kepada Kawan-kawan di Wijaya Kusuma Reiki

Alkisah pada suatu hari ada kawan yang mengutarakan bahwa bapaknya sedang mengalami gangguan kesehatan. Dimana sang Bapak sering mengeluhkan pusing kepala yang berkelanjutan dan pandangan sering kali hitam/ tidak bisa melihat. Sudah dibawa berobat ke medis beberapa kali namun masih saja belum terlihat kemajuan kesehatannya.


Pada suatu hari saya dipertemukan dengan sang Bapak, dan kami pun mengobrol untuk menjalin kedekatan dan akhirnya sang Bapak ini bercerita tentang keluhan kesehatannya. Beberapa hal yang dikeluhkan adalah, kepala terasa berat, pusing, leher, tengkuk terasa tegang serta pandangan mata yang kabur, mata terasa kering hingga kadang blank/hitam/tak bisa melihat sama sekali. Hal ini sangat dirasakan ketika baru bangun tidur dan kadang juga muncul ketika sedang melakukan aktivitas keseharian. Beliau juga bercerita kalau tekanan darahnya kadang naik (sory lupa berapa tensinya).


Setelah beberapa saat ngobrol maka kami sepakat untuk memulai sesi terapi reiki. Proses terapi dilakukan selama kurang lebih 15-20 menit. Saat proses terapi badan sang bapak terlihat bergoyang seperti orang menahan kantuk, dan malahan hampir rebah namun masih bisa mengatasi dirinya supaya tidak rebah.
Setelah proses healing selesai, terlihat sang bapak lebih segar dan rileks, dari kedua matanya terlihat menetes air mata. Kemudian bapak tersebut bilang bahwa badannya sudah lebih nyaman dibanding tadi sebelum terapi, matanya terasa perih seperti kemasukan pasir, namun merasa enak karena air mata keluar yang selama ini sangat jarang air mata bisa keluar seperti itu.


Pada hari berikutnya, kembali saya bertemu dengan sang bapak, pada saat bertemu badan bapak ini kelihatan fresh, dan setelah beberapa saat dia bercerita bahwa semalam dia bisa jalan sendiri ke kamar mandi tanpa dibantu, meski suasana sekitar gelap (karena penerangan kurang) dan tidur dengan nyenyak, dan saat bangun tidak seperti hari-hari sebelumnya, karena saat bangun, pandangan mata tidak gelap.
Saat pertemuan kedua ini dilakukan healing reiki kembali. Proses berlangsung seperti hari pertama, dan ketika selesai healing, sang bapak bercerita kalau pandangannya lebih enakan.


Proses healing dengan sang bapak ini, saya lakukan selama 3 kali pertemuan, dan hasil setelah 3 kali pertemuan tersebut memperlihatkan hal yang positif. Dalam kesempatan pertemuan tersebut saya juga sarankan supaya bapak tersebut melakukan cek medis atas kondisi tubuhnya, dan tetap menjaga pola makan.
Pengalaman ini saya tuliskan untuk berbagi pengalaman tentang penggunaan reiki dalam keseharian, selain untuk diri kita sendiri kita juga bisa membantu meringankan beban orang lain. Apa yang saya sharingkan merupakan sekelumit proses melatih percaya diri dalam mempraktekkan reiki dan sekaligus sebagai proses belajar lebih lanjut. Dan untuk kawan- kawan praktisi reiki dimanapun berada tetap semangat belajar dan mempraktekkan apa yang telah dikuasi untuk sesama. Terima kasih