Pemenang Adalah...

Pemenang sejati adalah berani gagal, berarti berani belajar. Berani untuk mendapatkan kemenangan, juga berani hadapi kegagalan sebagai pembelajaran. Hanya mereka yang berani gagal yang dapat meraih keberhasilan.

Seputar Cinta

Jika rasa cinta terbalas, maka bersyukurlah karena Tuhan telah memberikan hidup lebih berharga dengan belas Kasih-Nya. Jika sebaliknya, maka bersabarlah karena Tuhan sudah mempersiapkan yg lebih baik

Banyak Sahabat

Sahabat itu akan menyenangkanmu saat kamu galau, menghiburmu saat kamu sedih dan membelamu saat kamu terluka.

Seputar Persahabatan

Jangan mengabaikan dia yg peduli padamu, suatu hari kamu akan kehilangan dia hanya karena kamu terlalu sibuk dgn dia yg tak peduli.

Cinta Tak Butuh Alasan

Dan cinta itu memang tidak butuh alasan. Seperti semua orang tua yang mencintai anak-anaknya tanpa alasan.

18/01/12

Edukasi Bagi Masyarakat "Berbohong dan Menjadi Kaya" -

Tidak dipungkiri lagi bahwa perkembangan kebutuhan manusia setiap harinya semakin meningkat dan apabila di sejajarkan dengan nilai tukar mata uang, maka setiap hari terjadi penurunan nilai mata uang dalam usahanya mencukupi kebutuhan manusia, khususnya di Indonesia. Benar begitu??? he..he..silakan anda berhitung sendiri, jika tidak sependapat dengan saya juga bleh kok ^_^.
 
Berbagai usaha manusia dilakukan guna mencukupi kebutuhan dasarnya bahkan untuk mencukupi kebutuhan tambahannya. Perkembangan ilmu dan teknologi mendorong serta "mempermudah" manusia dalam usahanya tersebut.
 
Penggabungan metode marketing dengan NLP misalnya, adalah bentuk pemanfaatan iptek dalam rangka usaha manusia mencukupi kebutuhannya. Dua hal yang berbeda yang seolah digabungkan menjadi satu. Hati-hati dengan metode ini, karena jika salah memahaminya maka sebenarnya akan merugikan. 
 
Dalam posting ini saya akan berbagi links mengenai e-book yang berjudul "Berbohong dan menjadi Kaya" E-book ini merupakan buku karangan Alwie Lau buku ini ditulis untuk tujuan edukasi ter­hadap masyarakat akan bahaya penipuan. Buku ini berisi berbagai cerita dan skenario penipuan konsumen. Sejumlah skenario adalah jelas­ - jelas penipuan, sebagian lainnya lagi adalah skenario atau tindakan yang masih dalam wilayah "abu-abu"(secara hukum memang legal, tetepi secara etika pantas duhan ipertanyakan).
 
Dalam buku ini dibahas mengenai dunia telemarketing dan berbagai investasi palsu, skema ponzi, pyramid game/networking, seminar rahasia menjadi kaya dan beberapa hal lagi. Untuk lebih detailnya silakan di baca sendiri saja yach ^_^.
 
Dengan postingan ini, harapan saya adalah, supaya pembaca lebih "dewasa" dalam memilih investasi maupun melakukan investasi dengan tidak menggunakan cara-cara yang tidak baik secara etika. Silakan bagi anda yang berminat bisa diunduh e-booknya disini.

15/01/12

Angry Birds

Angry birds merupakan game yang sudah tidak asing lagi di kalangan masyarakat, baik tua ataupun muda semua pasti mengenal game ini. Angry birds bisa menjadi game yang sangat populer seperti saat ini dikarenakan cara memainkannya yang tidak sulit, serta karakter burung yang ditampilkan sangat lucu, unik, dan bikin gemes.

Pengembangan Angry Birds dimulai pada Maret 2009. Setelah penciptaan sukses dari tim pengembangan Rovio, mereka merilis game tersebut pada bulan Desember 2009 dan selanjutnya adalah sejarah. Angry Birds menjadi adalah aplikasi permainan di Finlandia nomor satu. Lalu game 'Burung Marah' ini melanjutkan ekspansinya ke Amerika Serikat (AS) dan Inggris dimana Apple adalah kunci untuk membuat semuanya terjadi.

Menguasai  game ini bukanlah tugas yang mudah meskipun; mencetak 3 bintang di setiap tingkatan, menemukan semua telur emas, memukul struktur tepat . Angry Birds pun cepat berubah dari gane "sederhana dan mudah" menjadi game sangat menantang dan kadang-kadang bahkan membuat frustasi!.

Penasaran dengan game ini?? dan ingin memainkannya ??? silakan unduh disini dan instal di komputer anda. 


Untuk membantu download lebih cepat dan stabil silakan tambahkan program downloader pada komputer anda. Program downloader ini sudah dilengkapi dengan crack sehingga tidak akan terblokir saat anda terhubung dengan internet. Untuk unduh program downloader silakan klik disini. Semoga bermanfaat.

13/01/12

Konsep Partisipasi Masyarakat


Perkataan Partisipasi berasal dari perkataan Inggris “to participate” yang mengandung pengertian “ to make part” yang dalam bahasa Indonesia berarti mengambil bagian.Sedangkan paricipation berarti “the act participating”.( John M.Echols dan Hasan Shadily,  1995;419)

Seseorang dikatakan berpartisipasi terhadap sesuatu usaha atau organisasi apabila secara sadar ia ikut aktif mengambil bagian di dalam kegiatan-kegiatan dari usaha tersebut.

Keith Davis mendefinisikan partisipasi sebagai berikut ;
“….mental and emotional involment of person group situation whinch enccurages responsibility in them…”
(penyertaan mental dan emosi di dalam suatu kelompok yang mendorong mereka untuk menyumbangkan daya pikiran dan perasaan  mereka bagi tercapainya tujuan organisasi tersebut.) (Keith Davis, 1990 : 24).

Dari definisi tersebut partisipasi megandung pengertian :
a. Adanya penyertaan mental dan emosi. Di dalam partisipasi dituntut lebih daripada sekedar penyertaan fisik. Partisipasi merupakan proses penyertaan pikiran dan perasaannya dalam dinamika oraganisasi terutama dalam proses pembuatan keputusan.
b. Partisipasi merupakan sarana bagi pengembangan diri para bawahan. Mereka diberi kesempatan mengutarakan pendapat sebagai subyek bukan sekedar obyek dalam pengambilan keputusan.
c. Partisipasi merupakan sarana untuk menumbuhkan dan mempertebal rasa “ikut memiliki” di kalangan bawahan. Bawahan berperan di dalam setiap pengambilan keputusan merasa bahwa baik buruknya keputusan yang diambil, mereka ikut bertanggung jawab karena pada hakekatnya mereka sendiri yang memutuskan.

Menurut Moeljarto Tjokrowinoto, partisipasi adalah ;
Penyertaan mental dan emosi seseorang di dalam situasi kelompok yang mendorong mereka untuk menyumbang ide, pikiran dan perasaan bagi terciptanya tujuan bersama-sama bertanggung jawab terhadap tujuan tertentu” (Moeljarto Tjokrowinoto, 1978 :29)
Moeljarto lebih menitik beratkan pada emosi seseorang dan agaknya kurang memperhatikan segi fisik. Hal ini mungkin belum tentu dapat berlaku bagi kelompok yang berorientasi pada pemimpin. 

Koentjoroningrat berpendapat ;
“Partisipasi berarti frekuensi tinggi sertanya rakyat dalam aktivitas-aktivitas bersama. “ (Koentjoroningrat, 1981;79).

Dengan berbagai definisi tentang partisipasi maka dapatlah ditarik suatu kesimpulan bahwa partisipasi masyarakat adalah keterlibatan mental dan emosi serta fisik seseorang atau kelompok masyarakat dalam usaha untuk mencapai tujuan tertentu dengan cara merencanakan, melaksanakan, menggunakan dan disertai tanggung jawab.

Cara pandangan mengenai partisipasi masyarakat dalam suatu kegiatan sangat kompleks. Dusseldorp,  membuat klasifikasi mengenai partisipasi berdasarkan tipe partisipasi. Dalam dalam hal ini, partisipasi  diklasifikasikan menjadi 9 point partisipasi , klasifikasinya tersebut adalah sebagai berikut ;
1)   Partisipasi berdasarkan pada derajat kesukarelaan;
Partisipasi berdasarkan derajat kesukarelaan terbagi menjadi dua yaitu partisipasi bebas dan partisipasi terpaksa. Partisipasi bebas terjadi bila seorang individu melibatkan diri secara sukarela di dalam suatu kegiatan partisipatif tertentu. Sedangkan partisipasi terpaksa terjadi karena dipaksa melalui aturan hukum atau karena kondisi sosial ekonomi.

2) Partisipasi berdasarkan pada cara keterlibatan;
Dalam klasifikasi ini dapat dibedakan menjadi dua yaitu partisipasi lansung dan partisipasi tidak langsung. Partisipasi lansung terjadi bila diri orang itu menampilkan kegiatan tertentu didalam proses partisipasi. Misalnya mengambil peranan di dalam pertemuan-pertemuan, turut berdiskusi., menyumbang tenaganya. Sedangkan partisipasi tidak langsung terjadi bila diri seseorang mendelegasikan hak partisipasinya.

3) Partisipasi berdasarkan pada keterlibatan dalam berbagai tahap dalam proses pembangunan;
Menurut penggolongan ini ada 6 langkah yaitu (a) perumusan tujuan,(b) penelitian, (c) persiapan rencana,(d) penerimaan rencana,(e) pelaksanaan,(f) penilaian. Ada dua kategori dalam penggolongan ini yaitu partisipasi lengkap bila seseorang baik secara langsung maupun tidak langsung terlibat di dalam seluruh enam tahap proses perencanaan, sedangkan yang kedua yaitu partisipasi sebagian bila seseorang baik secara langsung maupun tidak langsung tidak terlibat di dalam seluruh enam tahap proses perencanaan. Denga kata lain orang masih dianggap berpartisipasi sebagian bila hanya terlibat 5 tahap.

4)   Partisipasi berdasarkan pada pada tingkatan organisasi;
Dalam penggolongan partisipasi berdasarkan tingkatan organisasi dapat dibedakan menjadi dua yaitu partisipasi yang terorgaisasi dan partisipasi yang tidak terorganisasi.

5) Partisipasi berdasarkan pada intensitas dan frekuensi kegiatan ;
Partisipasi intensif terjadi bila ada frekuensi aktivitas yang sangat tinggi. Sedangkan partisipasi ekstensif terjadi bila pertemuan-pertemuan diselenggarakan secara tidak teratur.

6)   Partisipasi berdasarkan pada lingkup liputan kegiatan ;
Penggolongan partisipasi ini ada dua yaitu partisipasi tak terbatas dan partisipasi terbatas. Partisipasi tak terbatas bila seluruh kekuatan yang mempengaruhi komunitas tertentu diawasi oleh dan dijadikan sasaran kegiatan yang membutuhkan partisipasi anggota komunitas itu. Sedangkan partisipasi terbatas terjadi bila hanya sebagian kegiatan soial, politik, administratif, dan lingkungan fisik yang dapat dipengaruhi melalui kegiatan partisipatif.

 7) Partisipasi berdasarkan pada pada efektifitas;
Secara ekstrim berdasarkan tingkat efektifitasnya partisipasi dibedakan menjadi dua yaitu partisipasi efektif dan partisipasi tidak efekfektif. Partisipasi efektif yaitu kegiatan-kegiatan partisipatif yang telah menghasilkan perwujudan seluruh tujuan yang mengusahakan aktivitas partisipasi. Partisipasi tidak efektif terjadi bila tidak satupun atau sebagian kecil saja dari tujuan-tujuan aktivitas partisipasi yang dicanangkan terwujud.

8) Partisipasi pada siapa yang terlibat
Berdasarkan penggolongan ini orang yang dapat berpartisipasi dapat dibedakan sebagai berikut:
a)  anggota masyarakat setempat
b)  Pegawai pemerintah
c)  Orang-orang luar
d)  Wakil-wakil masyarakat yang terpilih.

9) Partisipasi berdasarkan pada gaya partisipasi.
Berdasarkan gaya partisipasi ini dibedakan menjadi tiga yakni (a) pembangunan lokalitas, (b) perencanaan sosial, dan (c) aksi sosial. Model Pembangunan lokalitas dilaksanakan dengan cara melibatkan orang-orang didalam pembangunan mereka sendiri dan dengan cara ini dapat menumbuhkan energi sosial yang dapat mengarah pada kegiatan menolong diri sendiri. Model Perencanaan Sosial, tujuan utama melibatkan orang–orang adalah untuk mencocokkan sebesar mungkin terhadap kebutuhan yang dirasakan dan membuat program lebih efektif. Sedang tujuan utama model aksi sosial adalah memindahkan hubungan –hubungan kekuasaan dan pencapaian terhadp sumber-sumber.Perhatian utma ada satu bagian dari masyarakat yang kurang beruntung. (Dusseldorp, dalam Slamet 1994)
Dengan Demikian partisipasi masyarakat, di artikan sebagai keterlibatan mental dan emosi serta fisik seseorang atau kelompok masyarakat secara saar dalam usaha untuk mencpai tujuan tertentu dengan cara merencanakan, melaksanakan serta menggunakan dan disertai tangung jawab.

24/11/11

Interaksi Sosial Perumahan Monang Maning (Potret Multikultural Bali)

       Pesatnya perkembangan perumahan Monang Maning selain dari upaya pemerintah dalam menjalankan program pembangunan perumahan pada khususnya, melainkan juga didukung dengan keterlibatan atau peran serta aktif masyarakat yang bertempat tinggal di lokasi bersangkutan.
Interaksi sosial yang tercipta di warga perumahan Monang Maning tentunya selain dalam rangka pemenuhan kebutuhan manusia sebagai makhluk sosial tentu saja di pengaruhi oleh kearifan lokal yang ada di tempat tersebut, dalam hal ini adalah kearifan lokal budaya Bali.
Proses sosial yang terjadi di dalam warga perumahan Monang Maning yang mempunyai latar belakang budaya yang beraneka ragam dalam bingkai kearifan lokal budaya Bali memunculkan suatu harmoni sosial yang bisa dikatakan sebagai miniature bangsa Indonesia, dimana bingkai Bhineka Tunggal Ika sangat tercermin di perumahan Monang Maning.
Interaksi sosial yang terjadi di perumahan Monang Maning dipengaruhi oleh faktor berikut ;
1.    Faktor tradisi, yang ada sejak nenek moyang mereka dengan sifat gotong-royong dan tolong-menolog.
Gotong-royong merupakan amalan masyarakat kita yang mengutamakan semangat bekerjasama di antara satu sama lain, bak kata pepatah `berat sama dipikul, ringan sama dijinjing’. Gotong-royong merupakan tradisi luhur peninggalan nenek moyang kita, yang dapat ditemukan dalam berbagai suku yang ada di Indonesia meskipun memiliki istilah lokal yang berbeda-beda. Dalam gotong royong ini amat mementingkan perpaduan dan nilai tradisi serta suka hidup tolong-menolong dan melakukan kerja secara sukarela.
Di lingkungan masyarakat perumahan Monang Maning, ternyata tradisi ini masih kental meskipun dilihat dari sisi lokasinya, perumahan ini terletak di perkotaan. Gotong royong yang terjadi tentu saja tidak lepas dengan tradisi budaya lokal, dalam hal ini adalah budaya Bali. Dalam bahasa lokal, gotong royong ini disebut dengan ngayah. NGAYAH ( Gotong Royong) bukanlah kata aneh bagi masyarakat Bali, hal ini terkait dengan tradisi budaya yang masyarakat Bali yang mayoritas beragama Hindu, dimana ngayah bagai Oksigen yaitu suatu kebutuhan hakiki yang menafasi darah religiusitas serta bagai air dan api kosmis yang mencuci jernih keruh-keruh karma kita atau membakar bebaskan benih-benih kemalasan (tamas) yang mencengkram Dharma.
Aktivitas gotong royong di lingkungan perumahan Monang Maning dilakukan guna menjaga kebersihan, keindahan lingkungan tempat tinggal dan sebagai sarana sosialisasi bagi warganya. Sebagai contoh, gotong royong yang dilakukan di wilayah desa tegal kertha, di wilayah desa ini gotong royong untuk membersihkan lingkungan tempat tinggal dijadwalkan di setiap blok-blok perumahan, selain itu gotong royong juga terlihat ketika ada warga yang sedang mempunyai hajat seperti resepsi perkawinan, kematian. Semua anggota masyarakat turun tangan tanpa melihat status, agama dan golongan, hal ini merupakan cerminan bahwa di dalam konteks perkotaan, ternyata masyarakat masih mengedepankan rasa kekeluargaan mereka.

2.   Faktor kekerabatan antarsuku bangsa, yang digunakan untuk menyelesaikan sengketa.
Interaksi sosial antar warga di perumahan Monang Maning dilandaskan pada hukum adat, meskipun ada hukum negara dan hukum agama. Hukum adat diberlakukan untuk semua orang yang menetap di Bali. Hukum adat telah ditetapkan oleh nenek moyang dahulu dan selalu digunakan sebagai pedoman untuk menyelesaikan setiap sengketa antarwarga suku bangsa.
Dalam hal ini peranan tokoh pemimpin tradisional mulai dari tingkatan banjar, dusun hingga desa sangatlah penting guna menjaga ketentraman hidup warga yang berbeda latar belakang budayanya, serta dalam menyelesaikan berbagai sengketa yang terjadi di lingkungan warganya.
Agenda pertemuan di tingkatan banjar dijadwalkan secara rutin dalam kurun waktu tertentu (mingguan, bulanan). Fungsi dari setiap pertemuan ini selain melestarikan tradisi budaya Bali yang biasanya membahas agenda kegiatan adat yang terkait dengan agenda-agenda adat/keagamaan, juga untuk membahas berbagai hal yang terkait dengan kelangsungan hidup di lingkungan tempat tinggalnya, serta sosialisasi terhadap program-program pemerintah.

3.   Faktor misi dakwah, yang menekankan aspek kemanusiaan dan pemberdayaan umat.
Hidup berdampingan antar bermacam kelompok pemeluk agama dengan toleransi dan penuh kedamaian adalah sangat baik.
Untuk mewujudkan kondisi yang demikian perlu diadakan silaturahmi antara agama, hal ini bukan suatu usaha untuk membentuk agama baru yang dapat di terima oleh orang banyak. Silaturahmi antar agama dimaksudkan untuk mempertemukan hati dan pikiran antar pemeluk berbagai agama. Dalam konteks silaturahmi antar agama ini dimaksudkan untuk menjalin  komunikasi antara orang-orang yang percaya pada tingkat agama. Dengan terjalinnya komunikasi merupakan jalan bersama untuk mencapai kebenaran dan kerjasama dalam proyek-proyek yang menyangkut kepentingan bersama. Tokoh- tokoh agama memegang kunci penting dalam memberikan dakwah bagi umatnya, dimana dakwah harus dititik beratkan pada pengembangan aspek-aspek kemanusiaan, pemberdayaan umat dalam mengembangkan sikap hormat menghormati dengan penganut kepercayaan lain.
Forum kerukunan umat beragama memberikan warna tersendiri bagi kerukunan antar umat beragama di Bali, khususnya di lingkungan perumahan Monang Maning. Beberapa aktivitas yang nyata adalah saling memberikan ucapan selamat bagi penganut agama yang sedang merayakan hari besarnya, saling mengunjungi diantara warga dalam satu wilayah tempat tinggal dan fenomena yang unik juga terjadi di salah satu lingkungan dusun di desa Tegal Kertha, dimana di sebuah blok perumahan mengadakan pertemuan bersama seluruh warga untuk saling memberikan ucapan selamat merayakan hari raya dan sebagai ajang silaturahmi antar warga beda agama.

4.   Faktor kerjasama antartokoh agama, pemimpin adat dan aparat pemerintah.
Kerjasama antar tokoh agama, pemimpin adat serta aparat pemerintah sangatlah diperlukan mengingat mereka memegang peran penting dalam mengajak warganya menciptakan suasana harmoni di lingkungan tempat tinggal.
Dalam kehidupan social di perumahan Monang Maning, hal ini tercermin dengan adanya Forum kerukunan umat beragama. Forum ini menjadi jembatan penghubung di Internal umat masing-masing. Artinya, masing-masing agama secara vertical memiliki keyakinan, cara, etika, susila yang dimiliki dan bersifat hakiki. Hal ini merupakan pembeda antara agama yang satu dengan yang lainnya yang harus dihormati. Forum ini melalui perwakilan di masing-masing agama harus dapat menularkan kerukunan di internal umat, dan menjaga aspek sakralisasi pelaksanaan tradisi keberagamaan masing-masing dengan tetap berpegang pada kaidah agama.
Secara horizontal, disamping dintern, maka dalam perspektif sosiologi agama, hubungan yang bersifat sosial dengan umat beragama lainnya perlu dijaga dan dikembangkan. Dalam konteks inilah Forum Kerukunan Umat Beragama dapat menjalankan peran dan fungsinya sebagai : 
1.    Sebagai wahana komunikasi, interaksi antara satu dengan yang lainnya dalam memberikan informasi terhadap tafsir agama masing-masing, sehingga tercipta suasana saling memahami dan saling menghormati;
2.    Sebagai wanan memdiasi setiap persoalan yang mengarah pada terjadinya konflik baik yang bersifat laten maupun manifest;
3.    Sebagai media harmonisasi hubungan satu dengan yang lain dalam mengkomunikasikan pelaksanaan kegiatan-kegiatan keagamaan;
4.    Melakukan sosialisasi kepada masing-masing umat beragama agar dalam kehidupan sosial tidak bersifat eksklusif sehingga dapat terbangun kohesi sosial dikalangan umat beragama;
5.    Membantu pemerintah daerah dalam menyukseskan program-program pembangunan;
6.    Bersama-sama pemerintah dan aparat kemanan ikut menjaga iklim sosial dan politik yang kondusif;
7.    Dan tentunya banyak hal lagi yang dapat dikerjakan dengan selalu bersinergi dengan kekuatan-kekuatan sosial yang ada didaerah.
(http://www.yayasankorpribali.org/artikel-dan-berita/63-peranan-forum-kerukunan-umat-beragama-dalam-memelihara-dan-memantapkan-kerukunan-umat-beragama-di-kabupaten-tabanan.html)

5.  Tidak adanya provokasi yang menimbulkan perpecahan, baik oleh masyarakat, tokoh dan pemimpin maupun pihak ketiga.
Untuk membangun solidaritas sosial antara masyarakat, Nasikun mengatakan paling tidak ada dua pendekatan atau perspektif yang dapat digunakan, yaitu : perspektif sistem sosial dan sistem budaya. Perspektif sistem sosial, yaitu melalui inter-group relation, yang dimaksudkan sebagai hubungan antara anggota-angota dari berbagai kelompok. Makin intensif hubungan antar kelompok, makin tinggi pula tingkat integrasi diantara mereka. Dengan adanya inter-group relation ini dapat pula menetralisir konflik diantara kelompok, karena setiap anggota kelompok tidak akan memiliki loyalitas tunggal dalam suatu kelompok tertentu, namun sebaliknya loyalitas mereka ganda berdasarkan kelompok-kelompok yang mereka masuki. Dengan demikian kekhawatiran akan terjadinya fanatisme sempit, sentimen-sentimen primordial juga akan dapat dinetralisir karena kegandaan loyalitas yang dimiliki oleh masing-masing anggota kelompok. Perspektif sistem budaya, dikatakan bahwa masyarakat majemuk dapat bersatu melalui penganutan nilai-nilai umum yang berlaku bagi semua anggota masyarakat. Nilai-nilai umum yang berlaku bagi semua anggota masyarakat ini sebagai perekat bagi kelompok-kelompok dalam masyarakat. Semakin kuat nilai-nilai umum itu berlaku bagi kelompok-kelompok dalam masyarakat, akan semakin kuat pula perekat bagi mereka. Nilai-nilai umum itu bersumber pada budaya dominan masyarakat multi etnik yang menjadi acuan perilaku yang terpola.
Dalam konteks kehidupan di perumahan Monang Maning, dua pendekatan tersebut dijalankan, ketika ada isu yang mersahkan yang berkembang di masyarakat, maka secara adat maupun secara pemerintahan akan mengusut isu tersebut dan menindak secara hukum yang berlaku di masyarakat maupun hukum nasional. Hal ini dilakukan untuk menciptakan serta menjaga situasi aman, nyaman di lingkungan perumahan tentunya. Hal ini terbukti bahwa sampai sekarang tidak ada kasus besar yang muncul di lingkungan perumahan Monang Maning.