Pemenang Adalah...

Pemenang sejati adalah berani gagal, berarti berani belajar. Berani untuk mendapatkan kemenangan, juga berani hadapi kegagalan sebagai pembelajaran. Hanya mereka yang berani gagal yang dapat meraih keberhasilan.

Seputar Cinta

Jika rasa cinta terbalas, maka bersyukurlah karena Tuhan telah memberikan hidup lebih berharga dengan belas Kasih-Nya. Jika sebaliknya, maka bersabarlah karena Tuhan sudah mempersiapkan yg lebih baik

Banyak Sahabat

Sahabat itu akan menyenangkanmu saat kamu galau, menghiburmu saat kamu sedih dan membelamu saat kamu terluka.

Seputar Persahabatan

Jangan mengabaikan dia yg peduli padamu, suatu hari kamu akan kehilangan dia hanya karena kamu terlalu sibuk dgn dia yg tak peduli.

Cinta Tak Butuh Alasan

Dan cinta itu memang tidak butuh alasan. Seperti semua orang tua yang mencintai anak-anaknya tanpa alasan.

08/02/11

PENDEKATAN BUDAYA TERHADAP AGAMA


Oleh Parsudi Suparlan (alm.)

Disampaikan dalam Pelatihan Wawasan Ilmu Pengetahuan dan Pendidikan Dosen Pendidikan Agama Islam Di Perguruan Tinggi Ditjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama, R.I. Tugu, Bogor, 26 November 1994 

Pendahuluan
Dalam salah satu tulisan saya (1988: v), saya kemukakan bahwa: “Agama, secara mendasar dan umum, dapat didefinisikan sebagai seperangkat aturan dan peraturan yang mengatur hubungan manusia dengan dunia gaib, khususnya dengan Tuhannya, mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnya, dan manusia dengan lingkungannya”. Dalam definisi tersebut, agama dilihat sebagai sebuah doktrin atau teks suci sedangkan hubungan agama dengan manusia yang meyakininya dan khususnya kegiatan-kegiatan manusia penganut agama tersebut tidak tercakup dalam definisi tersebut. Para ahli ilmu-ilmu sosial, khususnya Antropologi dan Sosiologi, yang perhatian utamanya adalah kebudayaan dan masyarakat manusia, telah mencoba untuk melihat agama dari perspektif masing-masing bidang ilmu dan pendekatan-pendekatan yang mereka gunakan, dalam upaya mereka untuk dapat memahami hakekat agama dalam kehidupan manusia dan masyarakatnya.
Diantara berbagai upaya yang dilakukan oleh para ahli Antropologi untuk memahami hakekat agama bagi dan dalam kehidupan manusia, Michael Banton telah mengedit sebuah buku yang berjudul Anthropological Approaches to the Study of Religion, yang diterbitkannya pada tahun 1966. Diantara tulisan-tulisan yang ada dalam buku tersebut, yang kemudian menjadi klasik karena sampai dengan sekarang ini masih diacu dalam berbagai tulisan mengenai agama, adalah tulisan Clifford Geertz yang berjudul Religion as a Cultural System. Tulisan Geertz inilah yang telah menginspirasikan dan menjadi acuan bagi perkembangan teori-teori mengenai agama yang dilakukan oleh para ahli Antropologi. Tulisan berikut ini juga mengacu pada teori Geertz mengenai agama sebagai sistem budaya, walaupun dalam rinciannya tidaklah sama dengan teori Geertz tersebut.

Pendekatan Kebudayaan
Pendekatan sebagai sebuah konsep ilmiah tidaklah sama artinya dengan kata pendekatan nyata biasa digunakan oleh umum atau awam. Kalau dalam konsep orang awam atau umum kata pendekatan diartikan sebagai suatu keadaan atau proses mendekati sesuatu, untuk supaya dapat berhubungan atau untuk membujuk sesuatu tersebut melakukan yang diinginkan oleh yang mendekati, maka dalam konsep ilmiah kata pendekatan diartikan sama dengan metodologi atau pendekatan metodologi. Pengertian pendekatan sebagai metodologi adalah sama dengan cara atau sudut pandang dalam melihat dan memperlakukan yang dipandang atau dikaji. Sehingga dalam pengertian ini, pendekatan bukan hanya diartikan sebagai suatu sudut atau cara pandang tetapi juga berbagai metode yang tercakup dalam sudut dan cara pandang tersebut. Dengan demikian konsep pendekatan kebudayaan dapat diartikan sebagai metodologi atau sudut dan cara pandang yang menggunakan kebudayaan sebagai kacamatanya. Permasalahannya kemudian, adalah mendefinisikan konsep kebudayaan yang digunakan sebagai sudut atau cara pandang ini.
Di Indonesia, diantara para cendekiawan dan ilmuwan sosial, konsep kebudayaan dari Profesor Koentjaraningrat amatlah populer. Dalam konsep ini kebudayaan diartikan sebagai wujudnya, yaitu mencakup keseluruhan dari: (1) gagasan; (2) kelakuan; dan (3) hasil-hasil kelakuan. Dengan menggunakan definisi ini maka seseorang pengamat atau peneliti akan melihat bahwa segala sesuatu yang ada dalam pikirannya, yang dilakukan dan yang dihasilkan oleh kelakuan oleh manusia adalah kebudayaan. Dengan demikian, maka kebudayaan adalah sasaran pengamatan atau penelitian; dan, bukannya pendekatan atau metodologi untuk pengamatan, penelitian atau kajian. Karena tidak mungkin untuk menggunakan keseluruhan gagasan, kelakuan, dan hasil kelakuan, sebagai sebuah sistem yang bulat dan menyeluruh untuk dapat digunakan sebagai kecamata untuk mengkaji kelakuan atau gagasan atau hasil kelakuan manusia. Ketidak mungkinan tersebut disebabkan karena: (1) Gagasan sebagai ide atau pengetahuan tidaklah sama hakekatnya dengan kelakuan dan hasil kelakuan. Pengetahuan tidak dapat diamati sedangkan kelakuan atau hasil kelakuan dapat diamati dan/atau dapat diraba. (2) Kelakuan dan hasil kelakuan adalah produk atau hasil pemikiran yang berasal dari pengetahuan manusia. Jadi hubungan antara gagasan atau pengetahuan dengan kelakuan dan hasil kelakuan adalah hubungan sebab akibat; dan karena itu gagasan atau pengetahuan tidaklah dapat digolongkan sebagai sebuah golongan yang sama yang namanya kebudayaan.
Dalam berbagai tulisan saya, antara lain (1986), telah saya kemukakan bahwa kebudayaan adalah pedoman bagi kehidupan masyarakat yang diyakini kebenarannya oleh masyarakat tersebut. Bila kebudayaan adalah sebuah pedoman bagi kehidupan maka kebudayaan tersebut akan harus berupa pengetahuan yang keyakinan bagi masyarakat yang mempunyainya. Dengan demikian, maka dalam definisi kebudayaan tidak tercakup kelakuan dan hasil kelakuan; karena, kelakuan dan hasil kelakuan adalah produk dari kebudayaan.
Sebagai pedoman hidup sebuah masyarakat, kebudayaan digunakan oleh warga masyarakat tersebut untuk menginterpretasi dan memahami lingkungan hidupnya dan mendorong serta menghasilkan tindakan-tindakan untuk memanfaatkan berbagai sumber daya yang ada dalam lingkungan hidup tersebut untuk pemenuhan berbagai kebutuhan hidup mereka. Untuk dapat digunakan sebagai acuan bagi interpretasi dan pemahaman, maka kebudayaan berisikan sistem-sistem penggolongan atau pengkategorisasian yang digunakan untuk membuat penggolongan-penggolongan atau memilih-milih, menseleksi pilihan-pilihan dan menggabungkannya untuk kepentingan-kepentingan tertentu. Dengan demikian setiap kebudayaan berisikan konsep-konsep, teori-teori, dan metode-metode untuk memilih, menseleksi hasil-hasil pilihan dan mengabungkan pilihan-pilihan tersebut.
Sebagai sebuah pedoman bagi pemenuhan kebutuhan-kebutuhan kehidupan maka kebudayaan berisikan konsep-konsep, resep-resep, dan petunjuk-petunjuk untuk dapat digunakan bagi menghadapi dunia nyata supaya dapat hidup secara biologi, untuk dapat mengembangkan kehidupan bersama dan bagi kelangsungan masyarakatnya, dan pedoman moral, etika, dan estetika yang digunakan sebagai acuan bagi kegiatan mereka sehari-hari. Operasionalisasi dari kebudayaan sebagai pedoman bagi kehidupan masyarakat adalah melalui berbagai pranata-pranata yang ada dalam masyarakat tersebut. Pedoman moral, etika, dan estetika yang ada dalam setiap kebudayaan merupakan inti yang hakiki yang ada dalam setiap kebudayaan. Pedoman yang hakiki ini biasanya dinamakan sebagai nilai-nilai budaya. Nilai-nilai budaya ini terdiri atas dua kategori, yaitu yang mendasar dan yang tidak dipengaruhi oleh kenyataan-kenyataan kehidupan sehari-hari dari para pendukung kebudayaan tersebut yang dinamakan sebagai Pandangan Hidup atau World View; dan yang kedua, yang mempengaruhi dan dipengaruhi coraknya oleh kegiatan-kegiatan sehari-hari dari para pendukung kebudayaan tersebut yang dinamakan etos atau ethos.
Kebudayaan sebagai pedoman bagi kehidupan masyarakat, memungkinkan bagi para warga masyarakat tersebut untuk dapat saling berkomunikasi tanpa menghasilkan kesalahpahaman. Karena dengan menggunakan kebudayaan yang sama sebagai acuan untuk bertindak maka masing-masing pelaku yang berkomunikasi tersebut dapat meramalkan apa yang diinginkan oleh pelaku yang dihadapinya. Begitu juga dengan menggunakan simbol-simbol dan tanda-tanda yang secara bersama-sama mereka pahami maknanya maka mereka juga tidak akan saling salah paham. Pada tingkat perorangan atau individual, kebudayaan dari masyarakat tersebut menjadi pengetahuan kebudayaan dari para prilakunya. Secara individual atau perorangan maka pengetahuan kebudayaan dan dipunyai oleh para pelaku tersebut dapat berbeda-beda atau beranekaragam, tergantung pada pengalaman-pengalaman individual masing-masing dan pada kemampuan biologi atau sistem-sistem syarafnya dalam menyerap berbagai rangsangan dan masukan yang berasal dari kebudayaan masyarakatnya atau lingkungan hidupnya.
Kebudayaan sebagai pengetahuan mengenai dunia yang ada disekelilingnya dan pengalaman-pengalamannya dengan relatif mudah dapat berubah dan berkembang sesuai dengan perubahan-perubahan yang terjadi dalam lingkungan hidupnya, terutama dalam kaitannya dengan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan bagi kehidupannya yang sumber-sumber dayanya berada dalam lingkungan hidupnya tersebut. Tetapi sebagai sebuah keyakinan, yaitu nilai-nilai budayanya, terutama keyakinan mengenai kebenaran dari pedoman hidupnya tersebut, maka kebudayaan cenderung untuk tidak mudah berubah.

Pendekatan Kebudayaan dan Agama
Konsep mengenai kebudayaan yang saya kemukakan seperti tersebut diatas itulah yang dapat digunakan sebagai alat atau kacamata untuk mendatang dan mengkaji serta memahami agama. Bila agama dilihat dengan menggunakan kacamata agama, maka agama diperlakukan sebagai kebudayaan; yaitu: sebagai sebuah pedoman bagi kehidupan masyarakat yang diyakini kebenarannya oleh para warga masyarakat tersebut. Agama dilihat dan diperlakukan sebagai pengetahuan dan keyakinan yang dipunyai oleh sebuah masyarakat; yaitu, pengetahuan dan keyakinan yang kudus dan sakral yang dapat dibedakan dari pengetahuan dan keyakinan sakral dan yang profan yang menjadi ciri dari kebudayaan.
Pada waktu kita melihat dan memperlakukan agama sebagai kebudayaan maka yang kita lihat adalah agama sebagai keyakinan yang hidup yang ada dalam masyarakat manusia, dan bukan agama yang ada dalam teks suci, yaitu dalam kitab suci Al Qur’an dan Hadits Nabi. Sebagai sebuah keyakinan yang hidup dalam masyarakat, maka agama menjadi bercorak lokal; yaitu, lokal sesuai dengan kebudayaan dari masyarakat tersebut. Mengapa demikian? untuk dapat menjadi pengetahuan dan keyakinan dari masyarakat yang bersangkutan, maka agama harus melakukan berbagai proses perjuangan dalam meniadakan nilai-nilai budaya yang bertentangan dengan keyakinan hakiki dari agama tersebut dan untuk itu juga harus dapat mensesuaikan nilai-nilai hakikinya dengan nilai-nilai budaya serta unsur-unsur kebudayaan yang ada, sehingga agama tersebut dapat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari berbagai unsur dan nilai-nilai budaya dari kebudayaan tersebut. Dengan demikian maka agama akan dapat menjadi nilai-nilai budaya dari kebudayaan tersebut.
Bila agama telah menjadi bagian dari kebudayaan maka agama juga menjadi bagian dari nilai-nilai budaya dari kebudayaan tersebut. Dengan demikian, maka berbagai tindakan yang dilakukan oleh para warga masyarakat untuk pemenuhan kebutuhan-kebutuhan kehidupan mereka dalam sehari-harinya juga akan berlandaskan pada etos agama yang diyakini. Dengan demikian, nilai-nilai etika dan moral agama akan terserap dan tercermin dalam berbagai pranata yang ada dalam masyrakat tersebut. Sebaliknya, bila yang menjadi inti dan yang hakiki dari kebudayaan tersebut adalah nilai-nilai budaya yang lain, maka nilai-nilai etika dan moral dari agama yang dipeluk oleh masyarakat tersebut hanya akan menjadi pemanis mulut saja atau hanya penting untuk upacara-upacara saja.
Apakah gunanya menggunakan pendekatan kebudayaan terhadap agama. Yang terutama adalah kegunaannya sebagai alat metodologi untuk memahami corak keagamaan yang dipunyai oleh sebuah masyarakat dan para warganya. Kegunaan kedua, sebagai hasil lanjutan dari kegunaan utama tersebut, adalah untuk dapat mengarahkan dan menambah keyakinan agama yang dipunyai oleh para warga masyarakat tersebut sesuai dengan ajaran yang benar menurut agama tersebut, tanpa harus menimbulkan pertentangan dengan para warga masyarakat tersebut. Yang ketiga, seringkali sesuatu keyakinan agama yang sama dengan keyakinan yang kita punyai itu dapat berbeda dalam berbagai aspeknya yang lokal. Tetapi, dengan memahami kondisi lokal tersebut maka kita dapat menjadi lebih toleran terhadap aspek-aspek lokal tersebut, karena memahami bahwa bila aspek-aspek lokal dari keyakinan agama masyarakat tersebut dirubah maka akan terjadi perubahan-perubahan dalam berbagai pranata yang ada dalam masyarakat tersebut yang akhirnya akan menghasilkan perubahan kebudayaan yang hanya akan merugikan masyarakat tersebut karena tidak sesuai dengan kondisi-kondisi lokal lingkungan hidup masyarakat tersebut.

Penutup
Sebagai akhir kata mungkin dapat dikatakan bahwa pendekatan kebudayaan dalam upaya memahami dan mengkaji agama, dan khususnya bagi para guru agama adan da’i, menjadi amat penting bila upaya pemantapan kehidupan keagamaan dan pengembangannya ingin supaya berhasil dengan baik. Implikasi dari penggunaan pendekatan kebudayaan adalah digunakannya pendekatan kwalitatif, seperti yang telah dilakukan oleh Max Weber dalam kajiannya untuk mengetahui sebab dari kemunculan dan berkembangnya kapitalisme. Max Weber menggunakan istilah verstehen yang artinya sama dengan pemahaman, yang menjadi dasar dari pendekatan kwalitatif.

Kepustakaan
Geertz, C, 1966 Religion as a Cultural System. Dalam Anthropological Approaches to the Study of Religion. (Di-edit oleh Michael Banton). London: Tavistock.
Koentjaraningrat, 1988 Ilmu Antropologi. Jakarta: Bhratara.
Suparlan, P., 1966 Kebudayaan dan Pembangunan. Dialog, No.21, Th.11. September.
1988 Kata Pengantar. Dalam Agama: Dalam Analisa Dan Interpretasi Sosiologis (Di-edit oleh Ronald Robertson). Diterjemahkan oleh Fediani Syaifuddin. Jakarta: Rajawali.

* Bagi-bagi Informasi

Pengertian Sosiologi (Kajian Singkat)

Sosiologi pada hakikatnya bukanlah semata-mata ilmu murni (pure science) yang hanya mengembangkan ilmu pengetahuan secara abstrak demi usaha peningkatan kualitas ilmu itu sendiri, namun sosiologi bisa juga menjadi ilmu terapan (applied science) yang menyajikan cara-cara untuk mempergunakan pengetahuan ilmiahnya guna memecahkan masalah praktis atau masalah sosial yang perlu ditanggulangi. Saat ini banyak definisi resmi mengenai sosiologi. Berikut ini definisi-definisi sosiologi yang dikemukakan beberapa ahli:
Pitirim Sorokin            : Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala sosial (misalnya gejala ekonomi, gejala keluarga, dan gejala moral), sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dengan gejala non-sosial, dan yang terakhir, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari ciri-ciri umum semua jenis gejala-gejala sosial lain.
Roucek dan Warren   : Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok-kelompok.
William F. Ogburn dan Mayer F. Nimkopf: Sosiologi adalah penelitian secara ilmiah terhadap interaksi sosial dan hasilnya, yaitu organisasi sosial.
J.A.A Von Dorn dan C.J. Lammers: Sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang struktur-struktur dan proses-proses kemasyarakatan yang bersifat stabil.
Max Weber                 : Sosiologi adalah ilmu yang berupaya memahami tindakan-tindakan sosial.
Paul B. Horton           : Sosiologi adalah ilmu yang memusatkan penelaahan pada kehidupan kelompok dan produk kehidupan kelompok tersebut.
Soejono Sukamto       : Sosiologi adalah ilmu yang memusatkan perhatian pada segi-segi kemasyarakatan yang bersifat umum dan berusaha untuk mendapatkan pola-pola umum kehidupan masyarakat.
William Kornblum     : Sosiologi adalah suatu upaya ilmiah untuk mempelajari masyarakat dan perilaku sosial anggotanya dan menjadikan masyarakat yang bersangkutan dalam berbagai kelompok dan kondisi.
Allan Jhonson            : Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari kehidupan dan perilaku, terutama dalam kaitannya dengan suatu sistem sosial dan bagaimana sistem tersebut mempengaruhi orang dan bagaimana pula orang yang terlibat didalamnya mempengaruhi sistem tersebut.
Dari berbagai definisi sosiologi diatas dapat disimpulkan bahwa Sosiologi adalah ilmu yang membicarakan apa yang sedang terjadi saat ini, khususnya pola-pola hubungan dalam masyarakat serta berusaha mencari pengertian-pengertian umum, rasional, empiris serta bersifat umum.
Menurut Selo Soemardjan dan Soeleman Soemardi mendefinisikan sosiologi adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses sosial termasuk perubahan sosial. Struktur sosial adalah keseluruhan jalinan antar unsur-unsur sosial yang pokok, yaitu kaidah-kaidah sosial, lembaga-lembaga sosial, kelompok-kelompok serta lapisan-lapisan sosial. Sedangkan proses sosial adalah pengaruh timbal balik antar pelbagai segi kehidupan bersama. Singkat kata, dapat dikatakan bahwa sosiologi tidak hanya merupakan suatu kumpulan sub-disiplin segala bidang kehidupan, melainkan merupakan suatu studi tentang masyarakat. Sosiologi memandang kehidupan bermasyarakat dengan caranya sendiri.
Pada dasarnya, sosiologi dapat dipahami sebagai ilmu yang mempelajari kehidupan sosial manusia dalam tatanan kehidupan bersama. Ilmu ini memusatkan telaahnya pada kehidupan kelompok dan tingkah laku sosial lengkap dengan produk kehidupannya. Sosiologi tidak tertarik pada hal-hal yang sifatnya kecil, pribadi, dan unik. Sebaliknya, ia tertarik pada hal-hal yang bersifat besar dan substansial serta dalam konteks budaya yang luas. Sosiologi lebih menekankan perhatiannya pada persoalan pengaruh kelompok pada sikap-sikap dan perilaku anggotanya. Namun yang perlu ditegaskan, sosiologi hanya dapat meneliti dan memahami yang lahiriyah (manifest). Selebihnya, mereka hanya bisa berspekulasi untuk meramalkan makna yang sebenarnya (latent).
Sosiologi sebagai ilmu mempunyai dimensi-dimensi ilmu sosial. Pada dasarnya, dikenal empat jenis dimensi dalam pendekatan teori sosial yaitu:
1) Dimensi kognitif.
Dalam dimensi ini, ilmuwan sosial akan selalu berbicara mengenai teori sosial sebagai cara untuk membangun pengetahuan tentang dunia sosial. Di sini terletak epistemologi yang membangun berbagai metodologi penelitian sosial.
 2) Dimensi afektif.
Merupakan sebuah kondisi di mana teori yang dibangun memuat pengalaman dan perasaan dari teoretisi yang bersangkutan. Dimensi ini mempengaruhi keinginan untuk mengetahui (to know) dan menjadi benar (to be right) – kedua hal ini bertitik berat kepada kejadian tertentu dan realitas eksternal.
3) Dimensi reflektif.
Di sini, teori sosial harus menjadi bagian dari dunia sebagaimana ia menjadi cara untuk memahami dunia. Dengan kata lain, teori sosial harus mencerminkan apa yang terjadi di luar sana dan apa yang terjadi pada kita sebagai salah satu elemen dari sistem sosial yang ada.
4) Dimensi normatif, yang memperluas dimensi ketiga.
Dalam dimensi ini, teori sosial sepantasnya memuat secara implisit ataupun eksplisit tentang bagaimana seharusnya dunia yang direfleksikannya itu. Keempat dimensi ini membangun seluruh pendekatan dalam proses kostruksi teori-teori sosial yang ada.

* Disarikan dari berbagai sumber

11/01/11

Integrasi & Dinamika Etnis Kultur (Sebuah Pendekatan Sejarah Masyarakat Ampenan)

A.    Sekilas Sejarah Masyarakat Kota Ampenan
Pada abad 19 sekitar tahun 1896 bahwa Kota Ampenan telah berkembang sebagai kota pelabuhan yang menghubungkan ke berbagai jalur pelabuhan sekitarnya. Sejalan dengan hal tersebut mengakibatkan munculnya arus urbanisasi dan transmigrasi sehingga menambah besar jumlah penduduk Kota Ampenan. Para pendatang mendiami berbagai tempat disekitar pesisir pantai pelabuhan Ampenan, yang kemudian berkembang menjadi perkampungan-perkampungan di Kota Ampenan.
Terbetuknya perkampung tersebut merupakan sebuah proses Integrasi penduduk dari bergai Etnis dan Culture yang mendiami sebuah wilayah atau tempat sehingga akibatnya terbentuklah masyarakat heterogen dengan memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk mengadu nasib di tanah rantauan orang.
Pada abad 20 masyarakat kota Ampenan berkembang semakin pesat walaupun masa pendudukan Belanda dan Jepang sempat menguasai pulau Lombok  maupun Nusa Tenggara atau Sunda Kecil. Bangunan-bangunan sekitar pelabuhan Ampenan telah tumbuh semakin pesat, pusat pertokoan perdagangan, kantor Bea Cukai di Pabean, Bank Dagang Belanda (Nederlands Indische Handelsbank), gudang bahan bakar BBM, Gedung Pabrik minyak kelapa, dan pabrik beras, sekarang hanya terlihat bekas-bekas reruntuhannya saja, selain itu juga terdapat bangunan Sekolah Dasar di kampung Kapitan, kantor Pos dan Giro, kantor Polisi di kampung Repukbebek, Sekolah Cina (Chung Hua Scool)  di kampung Melayu.
Pada jaman pendudukan Jepang kegiatan perdagangan di kota Ampenan sempat terhenti karena waktu itu Jepang merasa terdesak dari ancaman sekutu, maka Jepang memusatkan perhatian pada latihan Militer terhadap pemuda-pemuda berasal dari Lombok Tengah, Lombok Timur dan Lombok Barat untuk dipekerjakan sebagai pekerja pembuatan jalan-jalan untuk mempercepat proses hubungan Jepang dari daerah yang satu ke daerah yang lain serta pembuatan benteng-benteng pertahanan di Bangko-Bangko (sekarang termasuk wilayah Sekotong). (buku Studi pertumbuhan dan pemudaran Kota Pelabuhan Ampenan, Depdikbud 1995:35). 
Setelah masa pendudukan Jepang berakhir,  beransur-ansur masyarakat kota Ampenan yang semula fakum untuk aktivitas perdagangan, mulai  melakukan aktivitas sebagaimana biasanya.  Hubungan antar daerah sekitarnya kembali aktif, termasuk normalisasi hubungan dengan Bali, yang pada saat itu Bali ditunjuk sebagai kota propinsi Sunda Kecil dengan gubernurnya Mr. I Gusti ketut Pudje.
Pada tahun 1950 perkembangan kota Ampenan telah nampak dengan adanya pembangunan pertokoan-pertokoan, jalan-jalan, serta gang-gang yang  telah tertata rapi menjadi sanitasi yang indah serta pembangunan pabrik-pabrik pengolahan hasil bumi seperti; pabrik Kecap, Beras, Minyak Goreng dan lain-lain yang menjadi kebutuhan pasar oleh konsumen di sekitar kampung Telaga Mas.
Sebelum tahun 1976, perkembangan pelabuhan Ampenan memberikan keuntungan yang besar bagi pendapatan daerah kota Ampenan (investasi) dengan pemasukan dari sumber Pajak setiap kapal, atau perahu layar yang berlabuh, selain itu pemasukan pendapatan juga didapat dari penarikan pajak bagi setiap pedagang, baik pemiliki atau pengguna bangunan toko maupun pedagang kecil.
Pada tahun 1976 dan 1977 kegiatan yang ada di pelabuhan Ampenan mulai berkurang karena kegiatan lebih difokuskan pada pelabuhan Lembar karena ditunjang oleh perkembangan jalur transportasi semakin ramai yang disertai dengan terjalinnya hubungan transportasi antara Bali dan Lombok semakin besar. Untuk lebih efisien dan efektifnya pengangkutan barang-barang dari Bali melalui kapal atau veri cukup dengan mobil-mobil besar atau kecil untuk di antar langsung ke berbagai penjuru seperti di Ampenan – Mataram, Lombok Tengah, Lombok Timur bahkan sampai di pulau Sumbawa yaitu Sumbawa, Dompu dan Bima.
Perubahan transportasi laut ini membawa dampak negatif artinya terjadi pasang surutnya pelabuhan Ampenan fungsinya, dan perkembangan. Kotanya pun masih bertahan untuk maju, akan tetapi sumber ivestasi dari Pelabuhan Ampenan semakin berkurang.
Terjadinya perubahan tersebut maka pendapatan masyarakat pendatang seperti pedagang kecil, buruh atau tenaga yng dipekerjakan menjadi berkurang tingkat perekonomian meraka banyak yang beralih dengan mencari profesi lain, dan sangat memprihatin adalah pengangguran semakin banyak. Tapi hal itu bukan menjadi persoalan bagi penganggur tadi akan tetapi karena lebih banyak berasal dari perantau mereka terus mencari jawaban untuk bisa mempertahankan hidup tanah rantauan orang, ada yang menjadi pembantu rumah tangga atau bekerja di rumah orang Cina, Arab atau pada penduduk yang memiliki tingkat ekonomi menengah ke atas.
Kesiapan mental mereka untuk mempertahankan hidup adalah kebanggaan sikap budaya dari daerahnya yang tidak pernah mereka lupakan. Semangat budaya inilah yang akan menjadi berkembang untuk meningkatkan hubungan dengan berbagai suku atau etnis dengan tujuan saling menguntungkan dengan tidak menyakiti antara satu dengan yang lain.
Sikap dan perilaku itu selalu dipertahankan hingga sekarang. Walaupun agama dan bahasa yang berbeda tetapi tetap bersatu dengan semangan membangun masyarakat kota Ampenan Cerah Ceria (ACC) yang dijadikan sebagai Motto kota Ampenan. 

        
B.     Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat Kota Ampenan
Kota Ampenan mempunyai tingkat heterogenitas etnis dan kultur yang cukup tinggi, sehingga masyarakatnya dituntut untuk menjaga dan meningkatkan pemahaman serta kesadaran mereka untuk saling berhubungan satu sama lain tetap dipupuh dan dikembangkan.
Heterogenitas penduduk Ampenan tercermin dari pemukiman penduduknya yang diberi nama sesuai dengan nama daerah asalnya, seperti kampung Bajar, kampung Bugis, kampung Melayu, Kampung Arab, kampung Flores, kampung Jawa. Untuk penduduk etnis Cina menempati langsung ditempat penjualannya/toko yang biasanya terletak di disekitar jalan raya.
Selain nama pemukiman yang mencerminkan daerah asal, heterogenitas penduduk di Ampenan juga dapat di lihat dari model bangunan serta penataan tempat tinggal. Adapun pemukiman penduduk yang masih mencirikan nama asli daerah asal penduduk adalah sebagai berikut ;
-       Pemukiman Etnis Arab. Semula diberi nama Karangkerem, diberi nama demikian karena setiap kali musim hujan, perkampungan ini  selalu terendam banjir. Hal ini dikarenakan letak perkampungan  yang letaknya lebih rendah dari perkampungan sekitarnya. Dalam perkembangannya nama ini berubah menjadi Telagamas yang artinya mencerminkan terwujudnya ketika musim hujan tadi terendam menyerupai Telaga dan identik dengan dengan etnis pendatang baru yaitu etnis Arab yang telah terjadi perkawinan campuran dengan etnis Sasak atau etnis lainnya menjadi pekerja tukang emas. Bangunan pemukiman penduduk umumnya terbuat dari batu bata dan berpagar tinggi sehingga sulit dilihat dari luar.
-       Pemukiman Etnis Eropa Etnis Eropa termasuk orang Belanda yang masih secara turun temurun tinggal di Ampenan yang pernah bekerja sebagai pegawai Handels Bank dan perusahan pelayaran KPM (milik Belanda) mereka tinggal dengan jenis pemukiman dalam satu kompleks yang juga ditembok keliling yang cukup tinggi dengan gaya arsitek eropa yang dilengkapi dengan lapangan tenis. Nama perkampungannya adalah  Kampung Kapitan, artinya pada masa pendudukan Belanda di Lombok mereka menjadai pegawai ”Kapiten” atau menurut bahasa penduduk asli Sasak disebut ”Keliang”. Di Kampungan Kapitan terdapat nama Tangsi tentara Belanda yang dilengkapi dengan lapangan latihan Militer (latihan tembak). Dalam perkembangannya perkampungan Tangsi itu menjadi pemukiman tersendiri yang lebih banyak dihuni oleh etnis Indonesia bagian timur, yaitu etnis Maluku dan Timur.
-       Pemukiman Etnis Bali, biasanay diberi nama sesuai dengan kampung tinggal di Bali, seperti Karangujung. Warganya sebagian besar berasal dari kasta Waisa dengan pola kehidupan yang sederhana tinggal dalam satu kompleks. Pemukiman etnis Bali ini mempunyai ciri tersendiri, dimana di setiap rumah dibangun sanggah sebagai tempat sembahyang bagi mereka. Mata pencaharian mereka adalah petani dan pedagang.
-       Pemukiman Etnis Jawa. Arsitektur bangunan mengikuti pola arsitektur yang ada dan penataan pemukiman disesuaikan dengan status sosial ekonomi mereka. Etnis Jawa ini dalam perkembangannya mendirikan kampung Jawa.
-       Pemukiman Etnis Melayu. pemukiman etnis Melayu dengan bentuk dan jenis bangunan hampir sama dengan pemukiman etnis pulau Sumbawa (Bima dan Sumbawa) yaitu berasal dari kayu dengan  jenis rumah tiang kayu (panggung) dan lantai papan dengan penataan rumah dan jaraknya cukup sederhana. Kadang jarak dari satu rumah ke rumah yang lain sekitar 25 m sampai 35 m. Sedangkan sekarang karena pertambahan penduduk semakin pesat sehingga penataan semakin padat dan kadang tidak kelihatan batas pagar pertambahan penduduk semakin pesat sehingga penataan semakin padat dan kadang tidak kelihatan batas pagar.
Kemampuan masyarakat etnis yang tinggal di kota Ampenan baik di masa sebelum pengaruh Hindu/Budha, Islam maupun masa Kolonialisme Belanda dan Jepang hingga sekarang telah membentuk sistem sosial budaya secara turun temurun telah diwariskan oleh anak cucunya untuk menjadi masyarakat pendatang yang tau adat, tradisi sistem sosial kemasyarakatan. Norma atau nilai-nilai budaya yang tercermin hingga sekarang, sehingga walaupun Kota Ampenan tidak jaya seperti dulu lagi akan tetapi tetap menjadi kenangan yang bersejarah bagi mereka. Cerminan kearifan nilai sosial budaya menjadi contoh sehingga mampu menjadi bagian dari etnis masyarakat asli yang mampu meredakan setiap konflik-konflik yang akan dapat mengganggu stabilitas kehidupan kemasyarakatan di Kota Mataram sampai sekarang.
Bagi masyarakat etnis Ampenan kehidupan sosial keagamaan saling tetap menjalankan agama dan kepercayaan masing-masing walaupun masyarakat Ampenan penduduknya mayoritas Islam. Nuansa hari-hari besar agama masing-masing etnis, seperti hari besar Islam, Hindu, Kristen, Budha turut menjaga asas dan keragaman bukan menjadi perpecahan akan memperkaya status kehidupan kemasyarakatan mereka. Ketika terjadi konflik sara atau jenisnya jalan yang ditempuh oleh tokoh adat adalah musyawarah dan mufakat ditempat yang telah disepakati oleh mereka. Inisiatif menempuh jalan damai untuk menyelesaikan permasalahan biasanya muncul dari etnis lain yang tidak terlibat dalam sengketa. Hal ini merupakan bentuk keperdulian dan perhatian dari semua etnis yang tinggal di kota Ampenan untuk menciptakan serta menjaga kondisi sosial yang aman dan damai.   


C.    Kehidupan Sosial Politik dan Pemerintahan Masyarakat Kota Ampenan.
Gambaran tetang kehidupan sosial politik dan pemerintahan masyarakat Ampenan dari pra kolonial sampai masuk Imperalisme Belanda, Jepang dan masa kemerdekaan memiliki masa kejayaan dan pengalaman yang bersejarah tersendiri. Pengalaman itulah yang sekarang semakin memperkaya wawasan kehidupan kemasyarakatan bagi mereka,bahwa mereka hidup ditanah rantauan dengan mengadu nasib untuk cita-cita dan masa depan bagi harapan keluarga yang telah ditinggalkan oleh mereka sejak lampau.
1. Pengalaman Masa sebelum dan sesudah Kolonial Belanda
Sebagai pengalaman Sejarah etnis-etnis yang bermukim di kota Ampenan, Misalnya masa penjajahan Belanda ibu kota Ampenan dijadikan sebagai kota Afdeeling Lombok dengan berdasarkan staatblad No. 181/1895 tanggal 31 Agustus 1895 bahwa Pulau Lombok ditempatkan langsung dengan pemerintahan Hindia Belanda sebagai bagian dari ke Residenan  Bali dan Lombok adan dibagi menjadi wilayah/kompleks kecil seperti kompleks Pelabuhan, Perkantoran, komplek perdagangan, kompleks pemukiman dengan berdasarkan etnis masing-masing seperti yang pernah diuraikan di atas.
Pada tahun 1895 Belanda berkuasa mulai mempraktekan ajaran Colijn dengan semangat untuk menananmkan pada masyarakat Ampenan semangat sukuisme  yang paling ditonjolkan dan perbedaan agama (buku Integrasi Nasional dalam Pendekatan Budaya di Nusa Tenggara Barat, Depdikbud, 1996:52). Artinya menanamkan benih perpecahan dengan mempertajam politi adu domba sehingga akibatnya timbul rasa kebencian dari etnis-etnis. Timbul rasa kebencian dari etnis itu akan terjadi perpecahan (konflik) sehingga lebih muda Belanda memerintah mereka.
Dalam susunan pemerintahan diatur oleh Belanda dengan tidak berdasarkan wilayah atau komplek tinggal mereka akan tetapi berdasarkan etnis dengan berdasarkan kehendak Belanda atau pendudukung.    
Adanya pmindahan ibu kota pemerintahan dari Kota Ampenan ke Kota Mataram oleh Belanda, berarti kantor pemerintahan Asisten Keresidenan dan perumahan ikut juga pemindahan, sedangkan Kota Ampenan dijadikan sebagai kota pelabuhan sekaligus sebagai pusat kota perdagangan.
Pada masa pemerintahan Belanda jabatan Asisten Residen Kontrolir, InspekturPolisi, dan kepala Distrik dipegang jabatan oleh orang Belanda sedangkan jabatan Kepala Desa dipercayakan bangsa Bumi Putra (orang Lombok) yang merupakan jabatan paling rendah. Sedangkan kepal Desa dibantu oleh ”Kliang”  artinya Kepal Kampung (Kadus) sekarang   dan ”juruhwarah”  sebagai pembantu Kliang yang kan menyampaikan perintah langsung kepada rakyat apabila ada sesuatu yng berkaitan dengan Desa (rakyat) misalnya kegiatan gotongroyong infomasi penting dalam urusan pemerintahan. Selain itu dalam pengaturan dalam pemerintah desa terdapat juga untuk menjaga keamanan yaitu ”Langlang” yang akan bertanggungjawab terhadap keaman  Desa/kampung.
Kepala Desa, Kliang, Juruwarah, dan Langlang masa pemeritah Desa tidak mendapat gaji, mereka bekerja dengan suka rela. Akan tetapi mereka juga akan mendapat tanah pecatu (tanah bengkok) dan terbebas dari kerja Paksa/rodi, dan tidak dibebani dengan pajak.  
Pada masa Belanda juga para pegawai dengan memegang jabatan lebih banyak dari luar etnis Lombok, artinya etnis Jawa. Ada juga yang menjadi Guru, Perawat, dan menjadi pegawai rumah sakit. Sedangkan suku lain untuk menduduki jabatan dalam pemerintahan sangan kurang.
Untuk mendukung pemerintahan Belanda itu juga dalam pemindahan ibu Kota dari kota Ampenan ke kota Mataram sampai sekarang, pada tahun 1928 Belanda membangun Pusat tenaga Listrik yang diberi nama  ”Ebalom” yang artinya ”Electrich Bali en Lombok” yaitu tenaga Listrik untuk wilayah Bali-Lombok untuk menyediakan kebutuhan Belanda juga untuk pegawai-pegawai dan sebagaian penduduk yang terdiri dari wilayah Kota Ampenan, Mataram dan Cakranegara. Sedangkan pusat Ebalom yaitu PLN sekarang karena telah terjadi Nasionalisasi semua aset Belanda, sehingga menjadi Perusahaan Milik Negara. (Integrasi Indonesia: Pendekatan Budaya NTB, Depdikbud, 1996:55).

2. Pengalaman masa Pendudukan Jepang
Pada tanggal 8 Desmber 1941 Jepang kembali bangkit untuk menunjukkan kekuatan militer serta semangat Bushidonya membom Pearharbour di Hawai samudra pasifik dengan tujuan menghancurkan pangkalan militer Amerika agar tidak menjadi batu sanjung ketika Jepang melakukan ekspansi ke negara-negara Asia Pasifik. Selain itu juga Jepang menguasai Pangkalan Militer Amerika ke 2 di Filipina. Jendral Mech Acthur berhasil dihancurkan oleh Jepang. Dalam waktu lebih kurang 2 bulan Asia Pasifik jatuh ketangan Jepang, disamping itu keberhasilan Jepang menarik simpatik baga Asia Pasifik dengan slogan propagandanya yaitu Gerakan Tiga A dan Jepang sebagai Saudara Tua. Akibatnya
Negara-negara Asia Pasifik termasuk Indonesia dibawah pendudukan Jepang. (Indonesia Abad ke 20, Moedjanto G. Drs. MA, 1988:69). Berbagai wilayah indonesia termasuk Lombok menjadi jajahan Jepang. Akhirnya pada tanggal 8 Mei 1942 Angkatan Laut Jepang mendarat melalui pelabuhan Ampenan dengan menggantikan kedudukan Belanda. Akibatnya dalam proposi pemerintahan telah berubah termasuk pembagian wilayah di pulau Lombok terbagi menjadi tiga wilayah yaitu : pemerintahan Lombok Timur, Lombok Tengah, dan Lombok Barat. Sedangkan wilayah ini pada masa Belanda disebut dengan pemerintaha  Kontrolir, sedangkan setelah dikuasai oleh pemeritahan Jepang menjadi Bun ken kanrikang. Kepala Distrik diganti menjadi  Gunco
Dan Kepala Desa menjadi Sunco. Sedangkan jawatan-jawatan lain yang penting adalah Kepolisian, urusan bahan makanan, dan urusan pemotongan hewan. Sejak masa pemerintahan Jepang kota Ampenan sepi kembali karena sistem pemerintahan lebih berorientasi ke Militerisme (seperti di bahas pada bab III).  Pusat perdagangan kota Ampenan tidak lagi menjadi ramai, toko-toko kosong, gang-gang yang dekat dengan kepentingan Jepang diperlebar secara paksa.
Perhatian oleh Jepang kepada negara jajahan termasuk pembangunan kota Ampenan berbeda, Jepang membentuk kekuatan baik bersifat Diplomasi dan Militer seperti organisasi-organisasi Gerakan 3A, Fujinkai, Seinendan, sedangkan yang paling berperanan menentukan kakuatan pertahanan Jepang adalah Peta, Heiho, Keibodan. Organisasi ini diperalat oleh Jepang untuk menjadi alat perang. Pemuda-pemuda wajib Militer bagi yang berumur minimal 16 tahun, dengan tujuan untuk membantu jepang dalam perang Asia Timur raya melawan Sekutu. (Sejarah Revolusi Kemerdekaan 1945-1949 daerah NTB, Depdikbud, 1980 23-24).
 Suasana seputaran Kota Ampenan, Mataram, dan Cakranegara semakin genting dan sepi Jepang dengan kekuatan dan kekuasaan Militerisme semakin lama menimbulkan kebencian masyarakat. Larangan untuk berkumpul membicarakan politik, menyanyikan lagu-lagu kebangsaan, berbahasa indonesia disekolah-sekolah, kegiatan beribadah sebagai masyarakat Sasak dan etnis pendatang bermayoritas Islam dibatasi dan diintimidasi oleh tentara Jepang. Kegiatan seni Budaya larangan, semakin lama masyarakat terus tertanam rasa kebencian ingin melakukan pemberontakan.
Pemberontakan ini awalnya melalui gerakan penghentian pengiriman bahan makanan kepada setiap kantong-kantong pemerintahan Jepang. Gerakan itu dipelopori di Lombok oleh Mamiq Padelah, Lalu Durahman, Lalu Srinata dan lainnya agar masyarakat sadar bahwa pemerintahan Militer Jepang lebih mengutamakanan urusan dan kepentingan sendiri dari pada untuk kepentingan bangsa koloninya. (Sejarah Revolusi Kemerdekaan 1945-1949 daerah NTB, Depdikbud, 1980 23).
Kekuatan gelombang serang sekutu semakin dahsat dan Militer Jepang semakin kehilangan kepercayaan, maka Jepang menjanjikan pada bangsa Indonesia apabila membantu Jepang dalam perang Asia Timur Raya melawan Sekutu maka Indonesia akan diberikan Kemerdekaan.
Taktik, strategi dan kelicikan Jepang sudah diketahui oleh penduduk Indonesia termasuk di Lombok, maka ucapan Jepang tidak diperhatikan, semua yang berurusan dengan kepentingan dan kebutuhan Jepang diabaikan oleh masyarakat Lombok pada umumnya.
Waktu yang telah dinantikan telah tiba saatnya yaitu tanggal 6 dan 9 Agustus 1945 Naga Saki dan Hirosima di Bom oleh Sekutu dan akibatnya Jepang dengan Kaisar Hirohito menyatakan Menyerah tanpa sarat. Akhirnya Sekutu mengambil alih kekuasaan untuk mengamankan situasi bekas penjajahan Jepang dan mengembalikan tentara Jepang ke negaranya.
Akhir tahun 1945 Jepang meninggalkan Kota Ampenan, sejak itu kota Ampenan kembali berfungsi dan peranan pelabuhan mulai berangsur-angsur ramai kembali, kegiatan perdagangan mulai aktif. Para pedagang melakukan fungsinya, para buruh, tenaga kerja, kapal-kapal dagang kembali beraktivitas kembali yang sekian lamanya mereka telah tercekam oleh rasa ketakutan dan kekerasaan dari pemerintahan Jepang.
Kegiatan transportasi melalui darat kedaerah lombok Tengah, Lombok Timur, dan kepulau Sumbawa aktif kembali. Pola perbaikan pemerintahan mulai tertata kembali karena gelombang kekuatan Nasionalisme para pemuda dan tokoh, yaitu Bung Karno dan Hatta bersama dengan pemuda mencanangkan Proklamasi denga tujuan agar terbebas dar belenggu penjajah yang sudah berpuluh-puluh tahun lamanya. Deklarasi Of Independen tidak dapat dihindari lagi peluang kekosongan kekuasaan dan semangat kebangsaan dimanfaatkan oleh mereka untuk memproklamasikan kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945.
Setelah Kemerdekaan dicapai, maka status pemerintahan yang dulu warisan belanda yaitu kegiatan pemerinahan dikembalikan lagi ke Mataram, sedangkan kota Ampenan tetap menjadi kota perdagangan. Akan tetapi pelabuhan Ampenan juga mulai berpindah ke pelabuhan Lembar karena semakin meningkatnya arus transportasi darat lebih cepat. Akibatnya semakin lama kota pelabuhan Ampenan semakin sepi dan kegiatan perdagangan pun  menurun, karena di Cakranegara telah dibuka juga pertokoan-pertokoan, akibatnya konsumen sesuai dengan perkembangan tata kota lebih banyak membeli kebutuhannya di Cakranegara.
Wilayah dan perkampungan yang dihuni oleh berbagai etnis dibagi menjadi tiga kelurahan yaitu kelurahan Ampenan Utara, Kelurahan Ampenan Tengah, dan Kelurahan Ampenan Selatan, yang sampai sekarang menjadi pertumbuhan dan perkembangan pemekaran wilayah disetiap sudut kota Mataram.

05/01/11

Berapa Banyak Pengunjung Blog Anda ??????

Memiliki sebuah blog mungkin salah satu cara untuk menuangkan segala ide yang dimiliki dan di share/ dibagi dengan orang lain. Nah, untuk mengetahui sejauh mana blog kita diakses orang maka berikut ini ada beberapa tips untuk mengetahui sejauh mana blog yang kita buat diakses oleh orang lain dan darimana saja asal orang yang mengakses blog kita. Dengan demikian salah satu tujuan membuat blog yakni share ide dengan orang lain dapat termonitor dengan baik. 
Berikut ini ada beberapa widget yang bisa dipasang di blog, untuk mengetahui seberapa banyak sebuah blog diakses oleh orang lain, anda bisa memilih widget sesuai keinginan anda;

1.http://www.geovisite.com, Silahkan Klik Disini untuk mengunjunginya. Disebelah kiri terdapat bendera silahkan pilih bendera england, setelah itu Klik SignUp-Regeister lalu isikan data-data yang di perlukan, setelah itu klik tombol save, lalu tunggu email dari geovisite, untuk itu silahkan cek email anda..setelah anda menerima email silahkan klik link yang ada, Misal seperti berikut:
( http://www.geovisite.com/admin/index.php?lg=en ) dan anda akan menuju ke menu login, silahkan login dengan mengisikan username dan password anda lalu klik GO. Silahkan klik geocounter lau copy dan pastekan kode yang ada ke blog anda.

2.http://whos.amung.us.Silahkan klik Disini untuk mengunjungi. Setelah itu silahkan klik ShowChase dan silahkan pilih witget yang anda inginkan, dan copy kodenya lalu pastekan di blog anda.

3.www.flagcounter.com, klik Disini untuk mengunjungi..Silahkan atur dulu warna, text dll untuk tampilannya nanti di blog anda lalu klik GET YOUR FLAG COUNTER, copy kodenya dan pastekan di blog anda.

4.http://radarurl.com, yang ini untuk mengetahui berapa banyak pengunjung yang online, ini mirip dengan whos.amung.us di atas,silahkan klik disini untuk mengunjungi. Setelah itu klik Get A Rarar, disitu anda pilih letak tampilannya sesuai yang anda inginkan, jika sudah memilih dibawahnya terdapat kode, silahkan copy dan pastekan di blog anda



Selamat Mencoba......